Seiso di Laboratorium: Bersih Sekaligus Inspeksi untuk Cegah Risiko
Di laboratorium, “bersih” itu bukan sekadar enak dilihat. Bersih adalah bagian dari kendali: mencegah kontaminasi, mengurangi risiko terpeleset karena tumpahan kecil, membuat alat lebih awet, dan membantu kamu cepat sadar kalau ada hal yang tidak normal.
Masalahnya, banyak lab menjalankan bersih-bersih hanya saat ada jadwal umum atau menjelang kunjungan. Akibatnya, beberapa risiko muncul diam-diam: residu di area timbang, percikan reagen di meja kerja, selang yang mulai retak, atau botol yang bocor tipis tapi dibiarkan karena “nanti saja”.
Di sinilah Seiso di laboratorium penting. Seiso artinya membersihkan sambil inspeksi—bukan cuma menghilangkan kotoran, tetapi juga mencari tanda-tanda awal masalah sebelum menjadi insiden.
👉 Ringkasan Singkat:
- Seiso adalah langkah 5S untuk membersihkan area kerja sambil inspeksi kondisi.
- Di lab, Seiso membantu mencegah kontaminasi, kecelakaan kerja, dan kerusakan alat.
- Seiso yang benar fokus pada titik rawan: area timbang, preparasi, reagen, sample receiving, dan area limbah.
- Kunci Seiso: checklist sederhana, jadwal rutin, dan tindak lanjut cepat.
Apa Itu Seiso di laboratorium?
Seiso adalah langkah ketiga dalam 5S yang berarti membersihkan tempat kerja. Dalam praktik terbaik, Seiso di laboratorium bukan sekadar “resik”, tetapi bersih yang sekaligus inspeksi.
Maksud inspeksi di sini sederhana: saat kamu membersihkan, kamu juga mengecek apakah ada sesuatu yang tidak normal—misalnya tumpahan berulang di titik yang sama, baut longgar, kebocoran kecil, label pudar, atau alat yang kinerjanya mulai tidak stabil.
Karena itu, Seiso adalah salah satu cara paling praktis untuk “memunculkan masalah” yang biasanya tersembunyi di balik kesibukan harian.
Manfaat / Fungsi / Alasan
- Mencegah kontaminasi dan error proses – residu dan kotoran di area kritis bisa memengaruhi pekerjaan lab.
- Mengurangi risiko K3 – tumpahan kecil, pecahan, atau kabel semrawut lebih cepat terdeteksi.
- Menjaga kondisi alat dan fasilitas – kebocoran, retak, atau keausan terlihat lebih dini.
- Membuat masalah muncul lebih cepat – temuan kecil bisa ditindak sebelum jadi insiden besar.
Seiso yang konsisten biasanya membuat lab terasa “tenang”: area lebih terkendali, kejadian berulang berkurang, dan tim tidak panik saat ada audit internal karena kondisi memang stabil.
Pengalaman / Studi Kasus / Sudut Pandang Pribadi
Saya pernah melihat kasus yang terlihat sepele: ada noda kecil di area tertentu yang selalu muncul lagi, jadi dianggap “biasa”. Setelah Seiso dilakukan dengan benar (bersih sambil inspeksi), ternyata sumbernya adalah botol reagen yang bocor halus dan menetes perlahan. Selama ini tidak terasa karena ditutup dengan kebiasaan “lap cepat”.
Saat Seiso dijadikan rutinitas inspeksi, hal-hal seperti ini jadi lebih cepat ketahuan:
- titik tumpahan yang berulang,
- alat bantu yang mulai aus,
- area yang rawan kontaminasi,
- label atau penanda yang mulai tidak terbaca.
Dari situ saya makin yakin: Seiso bukan pekerjaan “tambahan”, tapi salah satu cara termurah untuk mencegah risiko.
Cara Menerapkan Seiso di Laboratorium
Langkah 1: Tentukan area prioritas dan standar “bersih” yang jelas
Di lab, tidak semua area punya tingkat risiko yang sama. Pisahkan minimal menjadi:
- Area kritis (mis. area timbang, preparasi, meja analisis tertentu)
- Area pendukung (mis. ruang alat, consumables, dokumen)
- Area risiko tinggi (mis. penyimpanan reagen tertentu, area limbah, sample receiving)
Lalu tetapkan definisi “bersih” yang praktis. Misalnya:
- tidak ada residu/percikan yang terlihat,
- permukaan kering dan tidak lengket,
- peralatan kembali ke kondisi siap pakai,
- tidak ada barang yang menutup area kerja.
Langkah 2: Bersihkan dengan metode yang sesuai area (tanpa membuat risiko baru)
Seiso bukan soal “banyak cairan pembersih”. Seiso adalah memilih metode yang tepat:
- lap kering untuk debu halus,
- lap lembap untuk noda tertentu,
- pembersihan bertahap untuk area yang sensitif,
- pastikan alat kebersihan juga tertata dan bersih.
Catatan: selalu sesuaikan dengan prosedur internal, terutama jika berhubungan dengan bahan kimia atau area yang sensitif terhadap kontaminasi.
Langkah 3: Lakukan inspeksi saat membersihkan (ini inti Seiso)
Selama membersihkan, lakukan pengecekan cepat:
- ada kebocoran, retak, atau tumpahan berulang?
- ada label pudar atau penanda tidak terbaca?
- ada alat yang tidak normal (bunyi, getaran, atau kondisi fisik)?
- ada kabel/selang yang mengganggu jalur kerja?
- ada area yang sulit dibersihkan karena penataan kurang tepat?
Kalau menemukan masalah, jangan hanya dibersihkan—catat temuan.
Langkah 4: Gunakan checklist Seiso yang sederhana dan rutin
Checklist Seiso harus bisa dicek cepat, tidak lebih dari beberapa menit per area. Contoh isi checklist:
- permukaan meja bersih dan kering,
- tidak ada residu/tumpahan,
- alat bantu kembali ke tempat,
- tempat sampah/limbah tertutup dan sesuai,
- label area masih jelas,
- temuan inspeksi dicatat.
Langkah 5: Tindak lanjut cepat (tanpa menunggu rapat besar)
Temuan Seiso biasanya kecil, tapi sering jadi besar kalau dibiarkan. Buat aturan:
- temuan minor dibereskan saat itu juga,
- temuan yang butuh perbaikan dibuat tiket/daftar tindak lanjut,
- PIC area jelas siapa yang menutup temuan.
Contoh Penerapan Seiso di Titik Rawan Lab
1) Area timbang/penimbangan
Risiko umum: residu serbuk, percikan, alat bantu menumpuk, permukaan lengket.
Seiso yang benar:
- bersihkan permukaan secara rutin,
- pastikan area tidak jadi storage,
- cek kondisi timbangan (stabilitas, kebersihan sekitar),
- catat jika ada residu berulang di titik yang sama (indikasi proses atau kebiasaan yang perlu dibenahi).
2) Area preparasi dan meja kerja
Risiko umum: kontaminasi silang, residu, alat habis pakai menumpuk.
Seiso yang benar:
- bersihkan sambil memastikan alur kerja tidak tercampur,
- periksa apakah ada “bottleneck” yang membuat barang menumpuk,
- cek kondisi wadah dan alat kecil (retak, aus, tidak layak pakai).
3) Lemari reagen/bahan kimia
Risiko umum: tumpahan kecil, botol bocor tipis, label pudar, penataan tidak konsisten.
Seiso yang benar:
- cek adanya cairan menetes atau kristalisasi residu,
- pastikan label masih jelas terbaca,
- lap rak secara berkala,
- temuan kebocoran ditangani sesuai prosedur internal.
4) Sample receiving dan penyimpanan sampel
Risiko umum: sampel tercampur status, box kotor, label status pudar.
Seiso yang benar:
- bersihkan area penerimaan,
- cek zona status sampel masih berjalan (incoming/in test/hold/completed),
- pastikan tidak ada sampel “nyasar” tanpa status.
5) Area limbah dan tempat pembuangan sementara
Risiko umum: tutup tidak rapat, label tidak jelas, area kotor, jalur terganggu.
Seiso yang benar:
- bersihkan area sekitar wadah,
- cek kondisi wadah (retak, bocor),
- pastikan penempatan aman dan tidak mengganggu jalur kerja.
Risiko / Hal yang Perlu Diwaspadai
- Risiko: Seiso jadi aktivitas “sekadar bersih” tanpa temuan
Solusi: pakai pola inspeksi sederhana saat membersihkan. Minimal cari 1 hal: apakah ada yang tidak normal hari ini? - Risiko: Checklist terlalu panjang sehingga tidak dijalankan
Solusi: buat checklist ringkas per area. Lebih baik singkat tapi rutin daripada lengkap tapi jarang. - Risiko: Temuan dicatat tapi tidak ditindaklanjuti
Solusi: tetapkan PIC dan batas waktu penutupan temuan. Temuan yang berulang harus diangkat sebagai masalah proses, bukan hanya kebersihan. - Risiko: Pembersihan dilakukan dengan metode yang tidak sesuai
Solusi: sesuaikan metode Seiso dengan prosedur internal dan jenis risiko di area tersebut, terutama bila terkait bahan kimia atau potensi kontaminasi.
Tips Mengoptimalkan Seiso di Laboratorium Dengan Benar
- Jadikan Seiso sebagai “kebiasaan inspeksi”, bukan sekadar bersih-bersih.
- Prioritaskan area kritis yang paling berdampak ke kualitas dan keselamatan.
- Checklist harus ringkas dan mudah dicek (3–5 menit per area).
- Temuan kecil harus ditutup cepat agar tidak jadi masalah berulang.
- Jika tumpahan atau kotoran selalu muncul di titik yang sama, cari akar penyebabnya.
- Pastikan alat kebersihan dan bahan pembersih juga tertata (agar tidak menambah kekacauan).
Baca Juga : “5S di Laboratorium: Cara Terapkan Seiri sampai Shitsuke”
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)
Apakah Seiso aman digunakan?
Aman, karena Seiso membantu menjaga area kerja lebih bersih dan terkendali. Pastikan metode pembersihan mengikuti prosedur internal dan kebijakan K3, terutama untuk area bahan kimia dan limbah.
Apa bedanya Seiso dengan Seiton?
Seiton fokus menata dan memberi alamat barang agar mudah dicari dan dikembalikan. Seiso fokus membersihkan area dan melakukan inspeksi kondisi. Keduanya saling menguatkan: penataan yang baik membuat Seiso lebih mudah, dan Seiso menjaga penataan tetap sehat.
Berapa lama efek Seiso terasa?
Efeknya bisa terasa cepat: area lebih nyaman, temuan risiko lebih cepat muncul, dan kejadian kecil berulang berkurang. Dampak jangka panjang bergantung pada Seiketsu (standar) dan Shitsuke (disiplin audit).
Siapa yang cocok menerapkan Seiso di laboratorium?
Semua personel lab yang bekerja di area tersebut: analis, teknisi, PIC area, supervisor, serta petugas kebersihan internal jika ada. Seiso paling efektif bila dilakukan oleh pengguna area karena mereka paling paham kondisi normal vs tidak normal.
Kesimpulan
“Seiso di laboratorium adalah pilihan terbaik untuk menjaga area kerja bersih sekaligus mendeteksi risiko lebih dini.
Dengan manfaat seperti mencegah kontaminasi, mengurangi risiko K3, dan memperpanjang umur alat,
Jika ingin hasil maksimal, pastikan Seiso memakai checklist ringkas dan temuan inspeksi ditindaklanjuti cepat.
Kalau kamu ingin Seiso di laboratorium bukan sekadar bersih-bersih, tapi benar-benar menjadi inspeksi rutin untuk mencegah risiko, Seiso perlu dibuat sederhana, terukur, dan punya tindak lanjut yang jelas. Untuk praktik yang lebih terstruktur (zonasi, standar visual, checklist, hingga audit 5S), kamu bisa cek Pelatihan 5S di Laboratorium (2 Hari) di TrainingLaboratorium.


Pingback: 5S di Laboratorium: Cara Terapkan Seiri sampai Shitsuke - traininglaboratorium.com