Shitsuke di Laboratorium: Cara Menjaga 5S Tidak Balik Berantakan
Di laboratorium, 5S biasanya berhasil di awal. Area kerja mendadak ringkas, rak jadi rapi, meja bersih, label baru ditempel. Tapi beberapa minggu kemudian, pelan-pelan balik lagi: barang “sementara” muncul, reagen campur, sampel nyasar, checklist tidak diisi, dan standar visual cuma jadi pajangan.
Kalau ini terjadi, masalahnya bukan karena tim lab tidak mampu. Biasanya karena satu hal yang belum kuat: Shitsuke.
Shitsuke di laboratorium adalah langkah kelima 5S yang fokus pada disiplin dan kebiasaan. Ini bukan tentang menyalahkan orang, tapi tentang membangun sistem yang membuat 5S tetap hidup—meskipun orangnya sibuk, berganti shift, atau ada personel baru.
Artikel ini membahas pengertian Shitsuke, cara menjadikannya rutinitas, contoh kebiasaan yang efektif di lab, risiko yang sering bikin 5S gagal, dan tips praktis agar 5S tidak balik berantakan.
👉 Ringkasan Singkat:
- Shitsuke adalah disiplin menjalankan standar 5S secara konsisten sampai menjadi kebiasaan.
- Di lab, Shitsuke membuat Seiri–Seiton–Seiso–Seiketsu tetap bertahan, bukan rapi sementara.
- Kunci Shitsuke: audit ringan rutin, tindak lanjut cepat, PIC area jelas, dan penguatan kebiasaan harian.
- Disiplin bukan berarti keras—yang penting sistemnya membuat patuh jadi mudah.
Apa Itu Shitsuke di laboratorium?
Shitsuke adalah langkah kelima dari 5S yang berarti sustain atau membangun kebiasaan disiplin agar standar tetap dijalankan.
Dalam konteks lab, Shitsuke menjawab pertanyaan paling penting: bagaimana memastikan 5S tetap konsisten saat pekerjaan padat?
Karena realitanya, laboratorium itu dinamis: ada sampel masuk mendadak, ada alat yang dipakai bersama, ada kebutuhan preparasi cepat, ada inspeksi/audit, ada pergantian personel. Tanpa Shitsuke, standar yang sudah dibuat akan turun pelan-pelan.
Shitsuke bukan sekadar “ingatkan orang”. Shitsuke adalah sistem:
- ada ritme audit,
- ada tindakan korektif cepat,
- ada tanggung jawab area,
- dan ada kebiasaan kecil yang terus diulang.
Manfaat / Fungsi / Alasan
- Menjaga 5S tetap stabil – tidak hanya rapi di awal atau menjelang kunjungan.
- Mengurangi kesalahan berulang – barang tidak lagi sering salah tempat, status sampel lebih terjaga.
- Meningkatkan budaya disiplin dan kepatuhan – standar visual benar-benar dipakai, bukan pajangan.
- Memudahkan kerja lintas orang – siapa pun bisa bekerja di area itu tanpa bingung.
Di lab, Shitsuke itu seperti “pengunci pintu”: tanpa pengunci, kamu bisa menata sebaik apa pun, tapi kondisi akan mudah berubah karena aktivitas harian.
Pengalaman / Studi Kasus / Sudut Pandang Pribadi
Saya sering menemukan program 5S yang bagus saat launching, tapi turun setelah beberapa minggu. Penyebabnya hampir selalu sama: audit tidak konsisten, temuan dibiarkan, dan tidak ada pemilik area yang benar-benar menjaga standar.
Ketika Shitsuke dijalankan dengan sederhana tapi disiplin, hasilnya terlihat:
- tim tidak perlu “rapi-rapi besar” karena kondisi sudah terjaga,
- temuan kecil cepat selesai sebelum jadi masalah,
- orang baru lebih cepat menyesuaikan karena sistemnya jelas dan rutin.
Dari situ saya percaya: Shitsuke bukan membuat pekerjaan tambah berat. Justru Shitsuke mengurangi pekerjaan berulang yang selama ini menguras waktu.
Cara Menerapkan Shitsuke di Laboratorium
Langkah 1: Tetapkan kebiasaan harian yang kecil tapi wajib
Shitsuke tidak harus dimulai dengan audit besar. Mulai dari kebiasaan singkat, misalnya:
- “meja kerja harus kembali ke kondisi ideal setelah selesai pekerjaan”,
- “reagen yang dipakai harus kembali ke alamatnya”,
- “status sampel harus jelas sebelum pindah zona”.
Buat kebiasaan ini menjadi aturan tim, bukan preferensi individu.
Langkah 2: Tentukan PIC area (pemilik area) yang jelas
Tanpa pemilik area, 5S biasanya jadi “punya semua, dijaga tidak ada”.
PIC area bukan berarti mengerjakan semua. PIC memastikan:
- standar dipahami,
- checklist berjalan,
- temuan ditutup,
- dan perbaikan kecil tidak tertunda.
Langkah 3: Jalankan audit 5S ringan dan rutin
Shitsuke butuh ritme. Untuk lab, pola yang realistis biasanya:
- Audit mingguan singkat (10–15 menit per area)
- Audit bulanan lebih detail (lebih banyak poin, evaluasi tren)
Audit mingguan fokus pada hal yang paling berdampak:
- barang kembali ke alamat,
- label masih jelas dan konsisten,
- zona status sampel berjalan,
- area kritis tidak jadi tempat titip barang,
- area bersih dan siap pakai.
Langkah 4: Wajibkan tindak lanjut cepat (close the loop)
Audit tanpa tindak lanjut hanya jadi formalitas. Buat aturan:
- temuan minor diselesaikan saat itu juga,
- temuan yang butuh perbaikan dicatat sebagai tindakan (siapa, kapan selesai),
- temuan berulang harus dicari akar penyebabnya (bukan dibersihkan terus).
Langkah 5: Buat sistem penguatan (reinforcement) yang manusiawi
Shitsuke bukan berarti semua harus dihukum. Penguatan bisa sederhana:
- apresiasi area yang konsisten,
- tampilkan “before-after” sebagai bukti kemajuan,
- buat scoreboard ringan yang fokus pada perbaikan, bukan menyudutkan.
Di lab, budaya disiplin lebih mudah tumbuh jika tim merasa 5S membantu kerja mereka, bukan menambah beban.
Langkah 6: Integrasikan 5S ke rutinitas lab
Supaya tidak terasa “program tambahan”, 5S perlu masuk ke rutinitas:
- briefing singkat sebelum kerja (1–2 menit),
- checklist penutupan shift,
- kontrol consumables (min–max),
- pengelolaan status sampel.
Begitu 5S menjadi bagian dari kebiasaan kerja, Shitsuke berjalan lebih natural.
Contoh Praktik Shitsuke yang Efektif di Lab
1) “Reset area” setelah pekerjaan selesai
Aturan sederhana: setelah aktivitas, area kembali ke kondisi ideal (foto standar).
Ini menjaga area timbang dan meja preparasi tidak jadi tempat penumpukan.
2) Aturan barang “sementara”
Barang “sementara” harus punya:
- tempat khusus (temporary zone),
- batas waktu (mis. maksimal 1 hari/1 shift),
- PIC yang menutup keputusan.
Tanpa aturan ini, “sementara” adalah pintu masuk kekacauan.
3) Audit status sampel mingguan
Cek cepat:
- apakah sampel masih punya status jelas?
- apakah zona status berjalan?
- apakah ada sampel tanpa label/penanda?
Ini mengurangi risiko tertukar atau salah tahap.
4) Tindak lanjut temuan berulang
Kalau temuan yang sama muncul 3 kali, anggap itu masalah sistem:
- penataan kurang logis,
- standar terlalu sulit,
- atau kebiasaan kerja tidak didukung fasilitas.
Shitsuke yang matang selalu mencari perbaikan sistem, bukan hanya mengulang teguran.
Risiko / Hal yang Perlu Diwaspadai
- Risiko: Shitsuke dianggap “mengawasi orang”
Solusi: fokus pada sistem dan standar. Audit bukan mencari siapa salah, tapi memastikan kondisi area tetap terkendali. - Risiko: Audit jadi formalitas tanpa aksi
Solusi: wajibkan penutupan temuan (close the loop). Temuan harus punya PIC dan batas waktu. - Risiko: Standar terlalu berat sehingga tim malas menjalankan
Solusi: sederhanakan standar dan checklist. Buat “mudah patuh” lewat penataan yang logis dan visual yang jelas. - Risiko: Perubahan personel membuat standar berubah-ubah
Solusi: standar visual harus jelas dan tetap. Onboarding personel baru harus memasukkan aturan 5S sejak awal.
Tips Mengoptimalkan Shitsuke di Laboratorium Dengan Benar
- Buat kebiasaan 5S yang kecil tapi konsisten (lebih baik 5 menit rutin daripada 2 jam sesekali).
- Tetapkan PIC area dan tanggung jawab yang jelas.
- Audit singkat mingguan + evaluasi bulanan.
- Tutup temuan cepat; temuan berulang harus dicari akar penyebabnya.
- Gunakan standar visual (foto kondisi ideal) agar semua orang punya patokan yang sama.
- Jadikan 5S bagian dari rutinitas lab (briefing, penutupan shift, kontrol stok).
Baca Juga : “5S di Laboratorium: Cara Terapkan Seiri sampai Shitsuke”
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)
- Apakah Shitsuke aman digunakan?
- Aman. Shitsuke adalah pembentukan kebiasaan disiplin untuk menjaga standar 5S. Pastikan penerapan tetap selaras dengan prosedur K3 dan aturan internal lab, terutama untuk penyimpanan bahan kimia, sampel, dan limbah.
- Apa bedanya Shitsuke dengan Seiketsu?
- Seiketsu membuat standar visual dan aturan yang konsisten. Shitsuke memastikan standar itu dijalankan terus-menerus sampai menjadi kebiasaan melalui audit rutin dan tindak lanjut.
- Berapa lama efek Shitsuke terasa?
- Efeknya biasanya bertahap. Dalam beberapa minggu, area mulai stabil dan temuan berulang berkurang. Dalam beberapa bulan, budaya disiplin mulai terbentuk jika audit dan tindak lanjut konsisten.
- Siapa yang cocok menerapkan Shitsuke di laboratorium?
- Semua personel lab, terutama PIC area, supervisor lab, QA/QC, dan tim yang menjalankan audit internal. Shitsuke berhasil jika menjadi budaya tim, bukan beban satu orang.
Kesimpulan
“Shitsuke di laboratorium adalah pilihan terbaik untuk menjaga 5S tetap hidup dan tidak balik berantakan.
Dengan manfaat seperti menjaga konsistensi standar, mengurangi kesalahan berulang, dan memperkuat budaya disiplin,
Jika ingin hasil maksimal, pastikan audit rutin berjalan dan setiap temuan ditutup dengan tindak lanjut yang jelas.”
Kalau kamu ingin 5S di laboratorium tidak berhenti di rapih-rapih awal, Shitsuke harus dibuat sederhana dan realistis: audit ringan rutin, PIC area jelas, dan tindak lanjut cepat. Untuk panduan praktik yang lebih terstruktur (zonasi, standar visual, checklist, sampai mekanisme audit 5S), kamu bisa cek Pelatihan 5S di Laboratorium (2 Hari) di TrainingLaboratorium.


Pingback: 5S di Laboratorium: Cara Terapkan Seiri sampai Shitsuke - traininglaboratorium.com