9 Panduan Pipet Ukur (Mohr/Serologis): Fungsi, Cara Pakai, dan Perawatannya
Pipet ukur itu sering terlihat “mirip” satu sama lain, sampai akhirnya kamu benar-benar memakainya di lab. Baru terasa bedanya: ada yang skalanya berhenti sebelum ujung (Mohr), ada yang skalanya sampai ujung (serologis). Dan kalau kamu salah perlakukan—misalnya teknik mengosongkannya keliru—volume yang dipindahkan bisa meleset, padahal angka di kertas terlihat rapi.
Karena pipet ukur dipakai untuk banyak pekerjaan rutin (pengambilan aliquot, pemindahan larutan dalam volume variabel, preparasi sampel), kesalahan kecil akan berulang dan dampaknya jadi besar. Di artikel ini saya bahas tuntas pipet ukur (measuring pipette), termasuk pipet Mohr dan pipet serologis: fungsinya, cara pakai yang benar, cara membaca meniskus, sampai tips perawatan supaya pipet awet dan hasil ukur lebih konsisten.
👉 Ringkasan Singkat:
- Pipet ukur (Mohr/serologis) adalah alat untuk memindahkan volume variabel berdasarkan skala.
- Mohr: skala biasanya berhenti sebelum ujung; serologis: skala sampai ujung (sering “blow-out” sesuai tipe).
- Cara pakai yang benar: pilih volume, pre-rinse, set meniskus di angka awal, keluarkan sampai angka akhir, dan ikuti aturan “tiup/tidak” sesuai jenis pipet.
- Perawatan penting: cuci bersih, bilas, keringkan, simpan di rak, dan hindari kontaminasi serta retak halus.
Apa Itu Pipet Ukur (Mohr/Serologis)?
Pipet ukur adalah alat gelas/plastik laboratorium yang memiliki skala untuk memindahkan cairan dalam volume yang bisa dipilih (variabel), misalnya 0,5 mL, 1 mL, 2,5 mL, sampai 10 mL (tergantung tipe dan kapasitas).
Pipet ukur biasanya terbagi menjadi dua yang paling sering dibahas:
- Pipet Mohr: skala berhenti sebelum ujung pipet.
- Pipet serologis: skala sampai mendekati/hingga ujung pipet.
Keduanya sama-sama “pipet ukur”, tapi teknik penggunaannya bisa berbeda terutama soal apakah sisa cairan perlu dikeluarkan sampai habis atau tidak.
Fungsi Pipet Ukur dan Kenapa Dipakai di Laboratorium
- Memindahkan volume variabel – kamu bisa mengambil 1 mL, 3 mL, 7 mL sesuai kebutuhan.
- Mengambil aliquot sampel – untuk preparasi sampel, pengenceran, atau penambahan reagen dengan volume tertentu.
- Mendukung pekerjaan analisis rutin – ketika butuh lebih fleksibel daripada pipet volume (pipet gondok).
- Mempermudah kerja cepat – terutama jika volume sering berubah-ubah dalam satu rangkaian kerja.
Pipet ukur itu pilihan ideal ketika kamu butuh fleksibilitas. Kalau volume selalu tetap (misal selalu 10 mL), biasanya pipet volume lebih presisi. Tapi kalau volumenya berubah-ubah, pipet ukur lebih efisien.
“Angkanya Benar” Tapi Hasil Tetap Melenceng
Saya pernah menemukan kasus pengenceran yang secara hitungan sudah benar, tapi hasil konsentrasi tetap tidak pas. Setelah diperhatikan, ternyata masalahnya di pipet ukur—bukan di rumus.
Saya mencoba memakai pipet ukur (Mohr dan serologis) selama beberapa sesi dan menemukan beberapa hal menarik:
- Banyak orang set meniskus di angka awal dengan benar, tapi saat mengeluarkan cairan, posisi pipet tidak konsisten (kadang terlalu miring), sehingga aliran tidak stabil.
- Ada kebiasaan “menunggu terlalu lama” atau “terlalu cepat” melepas pipet dari dinding wadah, membuat sisa tetesan ikut atau tidak ikut secara tidak konsisten.
- Yang paling sering: perlakuan “tiup/tidak tiup” tidak sesuai jenis pipet, jadi volume yang keluar tidak sesuai desain.
Karena itu, saya percaya pipet ukur bukan alat “asal pakai”. Kalau tekniknya disiplin, hasilnya stabil. Kalau tekniknya campur aduk, hasilnya bisa naik turun tanpa kita sadar.
Cara Menggunakan Pipet Ukur (Mohr/Serologis) dengan Benar
Langkah 1: Kenali jenis pipet yang kamu pakai
- Kalau skalanya berhenti sebelum ujung: biasanya pipet Mohr.
- Kalau skalanya sampai dekat/hingga ujung: biasanya pipet serologis.
Ikuti SOP lab kamu untuk memastikan apakah pipet tersebut tipe “to deliver” (TD) atau “blow-out”.
Langkah 2: Pasang alat bantu hisap (pipet filler/pipet pump)
Gunakan pipet filler/pipet pump. Hindari pipet mulut untuk keselamatan.
Langkah 3: Lakukan pre-rinse (kondisikan pipet)
Ambil sedikit larutan yang akan dipipet, basahi dinding pipet, lalu buang. Ulang 1–2 kali, terutama untuk kerja yang sensitif.
Langkah 4: Hisap cairan sedikit di atas angka target awal
Misal kamu ingin memindahkan dari 0,0 ke 5,0 mL (contoh). Hisap sampai sedikit di atas 0,0 lalu set meniskus tepat di angka awal.
Langkah 5: Set meniskus sejajar mata
Pegang pipet tegak. Atur meniskus (biasanya meniskus bawah untuk cairan bening) tepat di garis skala angka awal.
Langkah 6: Keluarkan cairan sampai angka akhir yang diinginkan
Tempelkan ujung pipet ke dinding wadah penerima, biarkan mengalir stabil sampai meniskus tepat di angka akhir (misal 5,0 mL). Jangan “mengejar cepat”—lebih penting stabil.
Langkah 7: Perlakuan akhir: tiup atau tidak, sesuai jenis pipet
- Pipet Mohr umumnya tidak sampai ujung, dan biasanya tidak diperlakukan sebagai “blow-out” kecuali SOP menyatakan lain.
- Pipet serologis sering kali tipe “blow-out” (tergantung produk), sehingga sisa cairan di ujung bisa dikeluarkan dengan teknik yang benar (misalnya dengan bulb/pump) sesuai instruksi alat/SOP.
Kuncinya: jangan mencampur kebiasaan antar tipe.
Risiko/Kekurangan dan Hal yang Perlu Diwaspadai
Risiko 1: Salah jenis pipet → salah perlakuan akhir (tiup/tidak)
Solusi: identifikasi Mohr vs serologis, ikuti SOP, dan konsisten.
Risiko 2: Gelembung udara membuat volume kurang
Solusi: hisap perlahan, cek ujung pipet. Jika ada gelembung, buang dan ulang.
Risiko 3: Salah baca meniskus atau paralaks
Solusi: mata sejajar skala. Untuk cairan bening, umumnya baca meniskus bawah.
Risiko 4: Kontaminasi silang
Solusi: pre-rinse, gunakan pipet khusus untuk reagen tertentu bila diperlukan, dan cuci segera setelah dipakai.
Risiko 5: Pipet retak halus atau skala memudar
Solusi: inspeksi visual sebelum pakai. Jangan gunakan pipet yang retak/skalanya tidak jelas.
Tips Mengoptimalkan Pipet Ukur agar Hasil Konsisten
- Pilih kapasitas pipet yang paling mendekati volume kerja (jangan memaksa pipet 10 mL untuk mengukur 0,5 mL jika ada opsi pipet lebih kecil).
- Biasakan pre-rinse untuk pekerjaan analisis, terutama larutan standar.
- Saat mengalirkan, tempelkan ujung pipet ke dinding wadah agar aliran stabil dan tidak memercik.
- Pertahankan posisi pipet relatif tegak saat pembacaan dan pengaturan meniskus.
- Jangan menyentuh ujung pipet dengan tangan atau permukaan kotor.
- Setelah dipakai, bilas segera agar residu tidak mengering dan menempel.
Baca Juga : 10 Alat Gelas Volumetrik: Fungsi, Cara Pakai, dan Perawatan
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)
Apakah pipet ukur aman digunakan?
Aman, selama memakai pipet filler/pipet pump, tidak melakukan pipet mulut, dan menggunakan APD sesuai bahan kimia.
Apa bedanya pipet ukur dengan pipet volume (pipet gondok)?
Pipet ukur punya skala untuk volume variabel. Pipet volume (pipet gondok) hanya untuk satu volume tetap dengan presisi lebih tinggi.
Berapa lama efek “ketelitian” pipet ukur terasa?
Terasa saat kamu melakukan pemipetan berulang. Teknik meniskus, stabilitas aliran, dan konsistensi “tiup/tidak” akan sangat memengaruhi repeatability.
Siapa yang cocok menggunakan pipet Mohr/serologis?
Mahasiswa, analis lab, teknisi QC/QA, dan R&D yang sering memindahkan volume variabel untuk preparasi sampel, pengenceran, atau penambahan reagen.
Kesimpulan
Pipet ukur (Mohr/serologis) adalah pilihan terbaik untuk memindahkan volume variabel dengan cepat dan terukur.
Dengan manfaat seperti fleksibel untuk berbagai volume, membantu preparasi sampel, dan mempercepat kerja rutin, pipet ukur menjadi alat penting di laboratorium.
Jika ingin hasil maksimal, pastikan kamu membaca meniskus dengan benar, mengenali jenis pipet (Mohr atau serologis), dan merawat pipet agar bersih serta skala tetap jelas.
Kalau kamu ingin tim kamu makin rapi dalam praktik volumetrik (pipet ukur, meniskus, pengenceran, dan teknik kerja aman), kamu bisa konsultasi program training yang sesuai.

