Pernahkah Anda mengisi formulir pendaftaran online, lalu muncul pesan merah: “Format email salah”? Atau mungkin Anda bekerja di laboratorium dan diminta membuktikan bahwa metode pengujian Anda akurat?
Seringkali kita mendengar kata “Validasi”, tapi apa sebenarnya arti kata ini? Apakah sama dengan sekadar “mengecek”?
Banyak orang mengira validasi dan verifikasi adalah hal yang sama. Padahal, di dunia profesional—mulai dari IT, bisnis startup, hingga laboratorium pengujian—keduanya punya makna yang sangat berbeda.
Artikel ini akan mengupas tuntas apa yang dimaksud dengan validasi, mulai dari definisi dasar, contoh di dunia kerja, hingga penerapannya yang krusial.
Arti Validasi: Definisi Sederhana
Secara bahasa (etimologi), validasi berasal dari kata bahasa Inggris validation, yang akarnya adalah valid (sah, kuat, berlaku).
Jika merujuk pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), validasi artinya adalah “pengesahan pengujian kebenaran atas sesuatu”.
Namun, agar lebih mudah dipahami, definisi validasi adalah:
Sebuah proses pembuktian untuk memastikan bahwa sesuatu (data, metode, atau produk) sudah tepat, benar, dan sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Jadi, ketika Anda bertanya “validasi itu apa?”, jawabannya tergantung konteksnya:
- Di Data Entry: “Apakah datanya bersih dan sesuai format?”
- Di Laboratorium: “Apakah metode ini cocok untuk menguji sampel ini?”
- Di Startup: “Apakah produk ini benar-benar dibutuhkan orang?”
Perbedaan Mendasar: Validasi vs Verifikasi
Ini adalah bagian yang paling sering membingungkan banyak profesional. Apa bedanya memvalidasi dan memverifikasi?
Mari kita gunakan analogi sederhana: Memasak Nasi Goreng.
- Verifikasi (Are we building it right?):Anda mengecek resepnya. Apakah bawangnya sudah dikupas? Apakah takaran garamnya sudah 1 sendok teh? Apakah kompornya menyala?Fokusnya: Apakah prosesnya sudah sesuai standar/prosedur?
- Validasi (Are we building the right thing?):Anda mencicipi nasi gorengnya. Apakah rasanya enak? Apakah asinnya pas di lidah pelanggan?Fokusnya: Apakah hasilnya memuaskan dan sesuai kebutuhan pengguna?
Tabel Perbandingan Singkat:
| Fitur | Verifikasi | Validasi |
| Pertanyaan Kunci | Apakah sudah sesuai prosedur? | Apakah sudah sesuai kebutuhan/tujuan? |
| Fokus | Proses & Kepatuhan | Hasil Akhir & Fungsi |
| Contoh Data | Cek apakah kolom tanggal terisi angka. | Cek apakah tanggalnya masuk akal (bukan tahun 1800). |
Jenis-Jenis Validasi dalam Dunia Profesional
Istilah ini dipakai di banyak industri. Berikut adalah beberapa konteks penggunaan kata validasi yang paling umum:
1. Validasi Data (Data Validation)
Ini sering kita temui di Excel atau pemrograman. Validasi data adalah proses memastikan input data bersih dan bisa diproses sistem.
- Contoh: Kolom “Nomor HP” tidak boleh diisi huruf. Jika user mengetik huruf, sistem menolak.
- Tujuan: Mencegah Garbage In, Garbage Out (Data sampah masuk, hasil analisis pun sampah).
2. Validasi Metode (Laboratorium & ISO 17025)
Dalam dunia laboratorium (seperti di TrainingLaboratorium.com), validasi adalah nyawa dari hasil uji. Sebuah lab tidak boleh sembarangan memakai metode pengujian baru tanpa divalidasi.
- Apa yang dilakukan? Lab harus membuktikan parameter seperti akurasi, presisi, limit deteksi, hingga ketidakpastian pengukuran.
- Tujuannya: Memastikan hasil lab bisa dipertanggungjawabkan secara hukum dan ilmiah.
💡 Info Penting: Bagi Anda profesional laboratorium, memahami validasi metode adalah wajib hukumnya berdasarkan ISO/IEC 17025:2017. Salah validasi bisa berakibat fatal pada akreditasi.
3. Validasi Pasar (Market Validation)
Bagi pebisnis, memvalidasi ide berarti terjun ke lapangan untuk melihat apakah orang mau membeli produk Anda sebelum Anda memproduksi massal.
Mengapa Proses Validasi Itu Penting?
Tujuan validasi data maupun metode sebenarnya bermuara pada satu hal: Mitigasi Risiko.
- Menghemat Biaya: Bayangkan Anda sudah mencetak ribuan sertifikat, tapi ternyata datanya salah karena tidak divalidasi. Biaya perbaikannya akan sangat mahal.
- Keamanan & Keselamatan: Di industri farmasi atau pangan, validasi metode uji memastikan obat atau makanan aman dikonsumsi.
- Kepatuhan Regulasi: Banyak standar internasional (ISO, SNI, FDA) mewajibkan bukti validasi tertulis.
Kesimpulan: Jadi, Apa Itu Memvalidasi?
Secara ringkas, memvalidasi artinya memberikan stempel “Terbukti Sah dan Layak”.
Bukan sekadar menduga-duga, tapi melakukan serangkaian tes untuk membuktikan bahwa sesuatu itu benar adanya dan berfungsi sesuai harapan. Tanpa validasi, semua data dan metode hanyalah asumsi belaka.
📢 Khusus untuk Profesional Laboratorium
Apakah Anda sedang kesulitan memahami teknis Validasi Metode Uji sesuai standar ISO 17025:2017?
Banyak staf laboratorium yang bingung membedakan kapan harus validasi, kapan cukup verifikasi, dan bagaimana cara menghitung statistiknya.
Jangan biarkan kompetensi tim Anda stag. Pelajari langkah-langkah praktisnya bersama ahlinya.
👉 Lihat Program Training Verifikasi & Validasi Metode di Sini
