Checklist Audit 5S Laboratorium: Format, Contoh, dan Cara Skoring
Banyak laboratorium sudah pernah menerapkan 5S. Rak rapi, area kerja bersih, label ditempel, dan semua terlihat tertib. Tapi setelah beberapa minggu, kondisi mulai turun: barang “sementara” muncul, zona sampel tercampur, checklist tidak diisi, dan standar visual jadi pajangan.
Kalau kamu ingin 5S di laboratorium tidak balik berantakan, kuncinya bukan cuma Seiri–Seiton–Seiso–Seiketsu. Kuncinya ada di audit yang rutin dan gampang dijalankan. Audit membantu kamu mengecek: standar masih dipatuhi atau tidak, temuan apa yang berulang, dan apa yang harus dibereskan segera.
Artikel ini membahas checklist audit 5S laboratorium lengkap: format yang praktis, contoh poin audit per area, serta cara skoring yang sederhana tapi tetap berguna untuk evaluasi.
👉 Ringkasan Singkat:
- Checklist audit 5S membantu memastikan 5S tetap konsisten, bukan rapi sesaat.
- Format terbaik: ringkas, berbasis area, ada skor, PIC, dan tindak lanjut.
- Skoring sederhana (0–2 atau 0–5) sudah cukup untuk melihat tren.
- Audit tanpa tindak lanjut hanya formalitas; “temuan harus ditutup”.
Apa Itu Checklist Audit 5S Laboratorium?
Checklist audit 5S laboratorium adalah daftar poin pemeriksaan untuk menilai apakah penerapan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) berjalan sesuai standar di area lab.
Tujuan utamanya bukan “mencari salah”, tetapi menjaga kondisi ideal tetap stabil. Dengan checklist, audit bisa dilakukan cepat, objektif, dan mudah ditindaklanjuti—bahkan saat lab sedang sibuk.
Checklist audit 5S yang bagus biasanya punya 3 ciri:
- mudah dipakai (tidak bikin orang malas),
- mudah dibuktikan (poinnya jelas terlihat),
- mudah ditutup (temuan langsung punya aksi).
Manfaat / Fungsi / Alasan
- Menjaga 5S tetap hidup – standar tidak turun diam-diam.
- Mengurangi temuan berulang – masalah yang sama bisa terdeteksi dan diperbaiki akar penyebabnya.
- Memudahkan kontrol area kritis – area timbang, sampel, reagen tetap terkendali.
- Meningkatkan budaya disiplin – semua orang punya patokan yang sama, bukan “versi rapi” sendiri-sendiri.
Kalau 5S itu “metodenya”, maka audit 5S adalah “alat kontrolnya”.
Pengalaman / Studi Kasus / Sudut Pandang Pribadi
Saya sering menemukan audit yang terlalu panjang, akhirnya tidak dijalankan. Ada juga audit yang skornya selalu bagus, tapi kondisinya di lapangan tidak konsisten—karena auditnya tidak jelas buktinya atau tidak ada tindak lanjut.
Saya mencoba format audit yang lebih ringkas dan menemukan beberapa hal menarik:
- Audit 10–15 menit per area jauh lebih realistis daripada audit yang terlalu detail tapi jarang.
- Skor tidak harus sempurna. Yang penting adalah tren: apakah makin membaik atau makin turun.
- Bagian paling penting bukan skor, tapi kolom tindak lanjut dan kapan temuan ditutup.
Karena itu, checklist audit 5S harus didesain agar “enak dipakai”, bukan sekadar dokumen.
Cara Membuat Checklist Audit 5S Laboratorium
Langkah 1: Tentukan cakupan area audit
Pisahkan audit per area agar tidak melebar:
- Area timbang/penimbangan
- Area preparasi/meja kerja
- Penyimpanan reagen/bahan kimia
- Sample receiving & penyimpanan sampel
- Ruang alat & consumables
- Area limbah (jika masuk cakupan)
Mulai dari 1–2 area pilot dulu. Nanti diperluas.
Langkah 2: Tetapkan poin audit yang “terlihat” dan mudah dibuktikan
Contoh poin audit yang bagus:
- “Barang berada di alamatnya” (terlihat)
- “Label jelas dan konsisten” (terlihat)
- “Zona status sampel berjalan” (terlihat)
- “Tidak ada barang titipan di area kritis” (terlihat)
Hindari poin yang terlalu abstrak seperti “karyawan disiplin” tanpa indikator.
Langkah 3: Pilih sistem skoring yang sederhana
Agar cepat dipakai, saya sarankan salah satu ini:
Opsi A – Skor 0–2 (paling praktis)
- 0 = tidak sesuai
- 1 = sebagian sesuai / ada temuan
- 2 = sesuai
Opsi B – Skor 0–5 (lebih detail)
- 0 = buruk/tidak ada penerapan
- 1–2 = banyak temuan
- 3 = cukup, masih ada perbaikan
- 4 = baik
- 5 = sangat baik/konsisten
Untuk lab yang baru mulai, 0–2 biasanya sudah cukup.
Langkah 4: Siapkan kolom tindak lanjut yang wajib diisi
Checklist audit harus punya:
- temuan apa,
- siapa PIC,
- due date,
- status penutupan.
Ini yang membuat audit jadi alat perbaikan, bukan formalitas.
Langkah 5: Tetapkan frekuensi audit
Rekomendasi yang realistis untuk lab:
- Audit mingguan ringan (10–15 menit per area)
- Audit bulanan (lebih detail, melihat tren skor dan temuan berulang)
Risiko / Kekurangan / Hal yang Perlu Diwaspadai
- Risiko: Checklist terlalu panjang → akhirnya tidak dipakai
Solusi: batasi 10–20 poin per area (awal). Fokus yang paling berdampak. - Risiko: Skor bagus tapi kondisi tidak stabil
Solusi: pastikan poin audit “terlihat” dan ada bukti. Lakukan cross-check sesekali oleh orang berbeda. - Risiko: Temuan dicatat tapi tidak ditutup
Solusi: wajibkan PIC dan due date. Buat aturan “audit berikutnya cek status penutupan”. - Risiko: Audit dianggap mencari kesalahan
Solusi: posisikan audit sebagai alat menjaga standar dan mencegah risiko, bukan menyalahkan orang.
Tips Mengoptimalkan Audit 5S Laboratorium Dengan Benar
- Buat audit sesingkat mungkin, tapi konsisten.
- Fokus pada area kritis dan temuan yang paling sering berulang.
- Gunakan skor untuk melihat tren, bukan untuk “menghukum”.
- Temuan kecil harus ditutup cepat.
- Setiap bulan, bahas 3 hal: skor, temuan berulang, dan perbaikan sistem.
Checklist Audit 5S Laboratorium (Format Siap Pakai)
Berikut format yang bisa langsung kamu copy ke dokumen/Google Sheet.
Header Form Audit
- Nama Laboratorium:
- Area yang Diaudit:
- Tanggal Audit:
- Auditor:
- PIC Area:
- Skala Skor: 0–2 (0 tidak sesuai, 1 sebagian, 2 sesuai)
A. Seiri (Ringkas) – Pemilahan
- Tidak ada barang yang tidak relevan di area kerja (barang titipan) — Skor: __
- Barang rusak/expired/duplikat dipisahkan (ada area karantina/red tag bila perlu) — Skor: __
- Item jarang dipakai tidak memenuhi meja/area kritis (disimpan di storage yang tepat) — Skor: __
- Area karantina/red tag tertata dan memiliki batas waktu keputusan — Skor: __
B. Seiton (Rapi) – Penataan & “Alamat Barang”
- Semua barang punya lokasi/alamat tetap (rak/box/lemari/laci) — Skor: __
- Label rak/box jelas terbaca dan konsisten formatnya — Skor: __
- Barang yang sering dipakai dekat titik pakai (point-of-use) — Skor: __
- Zona status sampel jelas (incoming/in test/hold/completed/retensi jika ada) — Skor: __
- Reagen harian dipisah dari stok cadangan (jika berlaku) — Skor: __
C. Seiso (Resik) – Bersih Sekaligus Inspeksi
- Permukaan kerja bersih dan kering, tidak ada residu/tumpahan terlihat — Skor: __
- Area kerja tidak berdebu/kotor berlebihan, alat kebersihan tersedia dan tertata — Skor: __
- Ada bukti inspeksi sederhana saat bersih-bersih (temuan dicatat bila ada) — Skor: __
- Jalur kerja aman (tidak terhalang, kabel/selang tertata) — Skor: __
D. Seiketsu (Rawat/Standar) – Standar Visual & Konsistensi
- Foto kondisi ideal/standar visual tersedia dan relevan — Skor: __
- Checklist harian/mingguan tersedia dan dipakai (bukan hanya tempelan) — Skor: __
- Format label konsisten antar area (tidak beda-beda “versi”) — Skor: __
- Aturan zona area kritis dipahami dan terlihat (mis. area timbang) — Skor: __
E. Shitsuke (Rajin/Disiplin) – Kebiasaan & Tindak Lanjut
- Audit rutin dilakukan sesuai jadwal (ada catatan) — Skor: __
- Temuan audit ditindaklanjuti (ada PIC dan due date) — Skor: __
- Temuan berulang diangkat untuk perbaikan sistem (bukan sekadar dibersihkan) — Skor: __
Total Skor: ____ / (Jumlah poin x 2)
Persentase: ____ %
Catatan Temuan & Tindak Lanjut
- Temuan: _______________________
Aksi: _________________________
PIC: ___________ Due date: ______ Status: Open/Closed - Temuan: _______________________
Aksi: _________________________
PIC: ___________ Due date: ______ Status: Open/Closed
Cara Skoring yang Sederhana Tapi Berguna
Opsi Skoring 0–2 (rekomendasi)
- 0 = tidak sesuai / tidak ada penerapan
- 1 = sebagian sesuai / ada temuan kecil-menengah
- 2 = sesuai / konsisten
Interpretasi cepat (persentase)
- ≥ 85%: sangat baik, jaga konsistensi
- 70–84%: cukup baik, ada beberapa perbaikan
- < 70%: perlu tindakan prioritas (cek akar masalah)
Cara membaca skor yang benar
Jangan kejar angka “sempurna”. Lebih penting:
- skor stabil atau naik,
- temuan berulang turun,
- waktu mencari dan kekacauan area kritis berkurang.
Baca Juga : “5S di Laboratorium: Cara Terapkan Seiri sampai Shitsuke”
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)
- Apakah checklist audit 5S aman digunakan?
- Aman. Checklist audit adalah alat evaluasi dan perbaikan. Pastikan poin audit tetap selaras dengan prosedur K3 lab dan aturan internal (terutama untuk bahan kimia, sampel, dan limbah).
- Apa bedanya audit 5S dengan inspeksi K3?
- Audit 5S fokus pada kerapian, kebersihan, penataan, standar, dan disiplin agar proses efisien dan terkendali. Inspeksi K3 fokus pada keselamatan kerja dan kepatuhan aspek K3. Keduanya bisa saling melengkapi, tapi tujuannya berbeda.
- Berapa lama efek audit 5S terasa?
- Biasanya dalam beberapa minggu kamu sudah melihat perubahan: area lebih stabil, temuan berulang berkurang, dan tim lebih cepat menemukan barang. Efek budaya butuh konsistensi audit dan tindak lanjut.
- Siapa yang cocok menggunakan checklist audit 5S?
- Auditor internal, PIC area, supervisor lab, QA/QC, dan semua personel yang bertanggung jawab pada keteraturan area kerja. Idealnya audit dilakukan bergantian agar objektif.
Kesimpulan
“Checklist audit 5S laboratorium adalah pilihan terbaik untuk menjaga 5S tetap konsisten dan tidak balik berantakan.
Dengan manfaat seperti memudahkan kontrol area, mengurangi temuan berulang, dan memperkuat disiplin,
Jika ingin hasil maksimal, gunakan skoring sederhana, audit rutin, dan pastikan setiap temuan ditutup.”
Kalau kamu ingin audit 5S di laboratorium tidak sekadar formalitas, gunakan checklist yang ringkas, jelas buktinya, dan punya tindak lanjut yang nyata. Untuk praktik yang lebih terstruktur (zonasi, standar visual, audit, sampai cara menutup temuan), kamu bisa cek Pelatihan 5S di Laboratorium (2 Hari) di TrainingLaboratorium.


Pingback: 5S di Laboratorium: Cara Terapkan Seiri sampai Shitsuke - traininglaboratorium.com