Seiri adalah: Cara Pilah Barang Lab + Red Tag Efektif Cepat
Di laboratorium, barang “numpuk” itu sering dimulai dari niat baik: “Taruh dulu di sini, nanti diberesin.” Masalahnya, “nanti” di lab bisa berarti satu minggu—dan ujungnya area timbang jadi gudang mini, botol kosong bercampur reagen aktif, atau alat yang jarang dipakai malah makan tempat di meja kerja.
Di sinilah Seiri adalah langkah paling penting dalam 5S. Seiri bukan sekadar beberes. Seiri itu proses memilah dengan aturan jelas: mana yang memang harus ada di area kerja, mana yang harus dipindah, dan mana yang harus diputuskan nasibnya.
Kalau kamu ingin 5S di laboratorium jalan, Seiri adalah fondasinya. Karena tanpa Seiri, Seiton (rapi) cuma jadi “merapikan kekacauan”, dan Seiso (bersih) jadi pekerjaan berulang tanpa ujung.
👉 Ringkasan Singkat:
- Seiri adalah proses memilah: hanya barang yang diperlukan yang boleh tinggal di area kerja lab.
- Kunci Seiri di lab: tetapkan “zona kritis” (mis. area timbang) dan larang barang titipan.
- Red tag adalah label untuk item “status abu-abu” agar cepat diputuskan: simpan, pindah, servis, atau keluarkan.
- Seiri yang benar menghemat waktu mencari, mencegah salah simpan, dan memperkuat keselamatan kerja lab.
Apa Itu Seiri?
Seiri adalah langkah pertama dari 5S yang berarti memilah barang berdasarkan kebutuhan kerja—yang perlu dipertahankan, yang perlu dipindah, dan yang perlu dikeluarkan dari area.
Di laboratorium, Seiri membantu kamu “membersihkan sumber masalah”, bukan cuma merapikan tampilan. Seiri membuat area kerja fokus: barang yang mendukung proses ada di tempatnya, sementara barang yang tidak relevan tidak mengganggu pekerjaan dan tidak menambah risiko.
Kalau kamu pernah bingung mencari label kosong, spidol tahan pelarut, atau tip pipet tertentu, sering kali penyebabnya bukan stok habis—melainkan area penyimpanan campur-aduk karena Seiri belum tegas.
Manfaat / Fungsi / Alasan
- Mengurangi waktu mencari – barang penting tidak ketutup barang “titipan” atau duplikat yang tidak dipakai.
- Mencegah salah simpan & salah ambil – reagen, sampel, dan consumables jadi lebih mudah dibedakan dan ditata.
- Meningkatkan keselamatan kerja lab – area lebih lega, jalur kerja jelas, potensi bahaya lebih terlihat.
- Memudahkan standardisasi 5S berikutnya – Seiton (rapi) jadi ringan karena hanya menata barang yang memang perlu.
Kalau Seiri dilakukan dengan benar, efeknya terasa seperti “napas lab jadi lebih lega”. Meja kerja tidak lagi menampung barang lintas proses, dan personel baru pun lebih cepat paham pola kerja area tersebut.
Pengalaman / Studi Kasus / Sudut Pandang Pribadi
Saya pernah melihat lab yang tampak rapi, tapi pekerjaan tetap sering tersendat karena hal kecil: alat bantu tidak pernah kembali ke tempatnya, botol kosong bertumpuk, dan barang “sementara” jadi permanen. Akhirnya, semua orang jadi mengandalkan ingatan dan kebiasaan, bukan sistem.
Saya mencoba menerapkan Seiri secara disiplin selama beberapa minggu, dan menemukan beberapa hal menarik:
- Tantangan terbesar Seiri bukan memilah barang, tapi berani menetapkan aturan zona: area kritis tidak boleh jadi tempat titipan.
- Red tag paling efektif kalau dipakai untuk mempercepat keputusan, bukan untuk menyalahkan orang.
- Begitu barang yang tidak perlu keluar dari area kerja, proses 5S berikutnya (Seiton–Seiso) jadi jauh lebih mudah dan cepat.
Karena itu, saya percaya Seiri adalah langkah yang paling “menentukan hidup-matinya” program 5S di laboratorium.
Cara Menerapkan Seiri di Laboratorium
Langkah 1: Tentukan area dan “zona kritis”
Pilih area yang paling sering dipakai dan paling mudah berantakan, misalnya:
- area timbang/penimbangan,
- sample receiving & penyimpanan sampel,
- lemari reagen/bahan kimia,
- ruang alat & consumables.
Tetapkan aturan sederhana: barang yang tidak mendukung aktivitas area itu tidak boleh tinggal di situ.
Langkah 2: Kategorikan barang berdasarkan frekuensi dan kebutuhan
Buat pembagian yang gampang dipahami:
- Harian (wajib dekat titik pakai),
- Mingguan (boleh di storage dekat area),
- Jarang (pindahkan ke storage khusus),
- Tidak perlu/duplikat/rusak/expired (proses keluarkan sesuai prosedur).
Di lab, barang “jarang” itu sering paling memakan tempat karena tidak pernah diputuskan nasibnya.
Langkah 3: Terapkan red tag untuk item “abu-abu”
Red tag adalah label penanda untuk barang yang statusnya belum jelas: masih dipakai atau tidak, milik siapa, layak pakai atau perlu servis, dan di mana seharusnya disimpan.
Contoh item yang sering perlu red tag:
- alat kecil duplikat tanpa PIC,
- botol kosong yang menumpuk,
- bahan lama yang jarang dipakai,
- peralatan yang “katanya masih dipakai” tapi tidak pernah tersentuh.
Red tag membantu kamu membuat keputusan tanpa debat panjang. Barang yang sudah diberi red tag masuk ke area karantina sementara (misalnya 1–2 minggu), lalu diputuskan: simpan (dengan alamat), pindah lokasi, servis, atau keluarkan.
Langkah 4: Putuskan “aturan akhir” dan dokumentasikan singkat
Agar Seiri tidak balik lagi, hasil Seiri harus ditutup dengan keputusan yang jelas:
- apa yang boleh ada di area,
- apa yang dilarang (barang titipan, botol kosong tanpa tempat, dll.),
- siapa PIC area,
- di mana barang jarang disimpan.
Dokumentasinya tidak perlu panjang. Cukup standar visual sederhana + aturan 5–7 baris yang bisa dipahami semua orang.
Risiko / Hal yang Perlu Diwaspadai
- Risiko: Seiri berubah jadi “buang-buang barang”
Solusi: gunakan data sederhana: frekuensi pemakaian, kondisi, dan kebutuhan proses. Barang jarang dipakai boleh disimpan, tapi harus punya lokasi yang benar, bukan nongkrong di meja kerja. - Risiko: Red tag dipahami sebagai “mencari salah”
Solusi: tekankan bahwa red tag adalah alat manajemen, bukan hukuman. Fokus pada status barang, bukan siapa yang meletakkan. - Risiko: Area karantina red tag jadi tempat penumpukan baru
Solusi: beri batas waktu keputusan (misalnya 1–2 minggu) dan tetapkan PIC yang wajib menutup keputusan. - Risiko: Barang kritis ikut tersingkir karena salah klasifikasi
Solusi: saat memilah, libatkan pengguna utama area (analis/teknisi), dan pastikan daftar item kritis (mis. alat bantu tertentu, consumables wajib) aman.
Catatan keselamatan: untuk bahan kimia, limbah, dan sampel, pastikan keputusan pemindahan/penarikan mengikuti prosedur K3 dan aturan internal lab.
Tips Mengoptimalkan Seiri di Lab Dengan Benar
- Mulai dari area yang paling sering membuat kerja tersendat (area timbang biasanya “juara”).
- Buat aturan “zona kritis” yang tegas: meja kerja bukan storage.
- Bedakan jelas: barang aktif vs cadangan vs jarang dipakai.
- Terapkan red tag dengan masa keputusan yang jelas (ada deadline).
- Setelah Seiri selesai, lanjutkan cepat ke Seiton (alamat barang) supaya hasilnya “terkunci”.
- Jaga konsistensi: barang baru masuk area harus mengikuti aturan zona, bukan bikin aturan baru sendiri.
Baca Juga : “5S di Laboratorium: Cara Terapkan Seiri sampai Shitsuke”
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)
Apakah Seiri aman digunakan?
Aman, karena Seiri adalah proses memilah dan mengurangi penumpukan yang justru sering menjadi sumber risiko di lab. Pastikan pemindahan bahan kimia/sampel/limbah mengikuti prosedur K3 dan aturan penyimpanan yang berlaku.
Apa bedanya Seiri dengan Seiton?
Seiri fokus memilah (apa yang perlu dan tidak). Seiton fokus menata (barang yang sudah dipilih diberi alamat dan ditata agar mudah dicari dan dikembalikan). Banyak lab gagal karena langsung Seiton tanpa Seiri, jadi hanya “merapikan barang berlebih”.
Berapa lama efek Seiri terasa?
Efek awal biasanya terasa cepat—sering kali dalam hitungan hari—karena area kerja langsung lebih lega dan waktu mencari turun. Efek jangka panjang bergantung pada lanjutan Seiketsu (standar) dan Shitsuke (disiplin).
Siapa yang cocok menerapkan Seiri di laboratorium?
Semua personel lab yang memakai area kerja: analis, teknisi, PIC area, supervisor, hingga admin dokumen. Paling ideal dilakukan bersama pengguna utama area agar keputusan “perlu vs tidak” tepat.
Kesimpulan
“Seiri adalah langkah terbaik untuk memulai 5S di laboratorium karena langsung memangkas barang yang tidak perlu.
Dengan manfaat seperti hemat waktu mencari, mengurangi risiko salah simpan, dan membuat area kerja lebih aman,
Jika ingin hasil maksimal, pastikan red tag dipakai dengan deadline keputusan dan hasil Seiri segera dikunci dengan Seiton.”
CTA
Kalau kamu ingin 5S di laboratorium berjalan rapi dan tidak mudah kembali berantakan, Seiri perlu ditegakkan sejak awal—terutama di area kritis seperti area timbang dan penyimpanan reagen. Untuk praktik yang lebih terstruktur (red tag, zonasi, standar visual, hingga audit 5S), kamu bisa cek Pelatihan 5S di Laboratorium (2 Hari) di TrainingLaboratorium.


Pingback: 5S di Laboratorium: Cara Terapkan Seiri sampai Shitsuke - traininglaboratorium.com