Seiton di Laboratorium: Tata Reagen, Sampel, dan Alat Biar Cepat Dicari
Di laboratorium, waktu paling banyak sering bukan habis di analisis—tapi di hal-hal “kecil” yang berulang: cari reagen yang benar, mencari sampel yang statusnya belum jelas, atau mencari alat bantu yang berpindah-pindah tempat. Akhirnya, pekerjaan terasa lambat padahal orangnya sudah gerak cepat.
Kalau kamu sudah melakukan Seiri (memilah), langkah berikutnya yang menentukan kecepatan kerja adalah Seiton di laboratorium. Seiton bukan sekadar “menaruh barang rapi”, tapi menata sistem supaya barang mudah ditemukan, mudah diambil, dan mudah dikembalikan—oleh siapa pun, kapan pun.
Di artikel ini kamu akan belajar pengertian Seiton, cara menyusun “alamat barang”, contoh penerapan Seiton untuk reagen, sampel, dan alat, plus tips dan risiko yang sering bikin penataan balik berantakan.
👉 Ringkasan Singkat:
- Seiton adalah langkah 5S untuk menata barang agar mudah dicari, diambil, dan dikembalikan.
- Kunci Seiton di lab: alamat barang + label konsisten + aturan pengembalian.
- Fokus utama penataan: reagen/bahan kimia, sampel, dan alat/consumables.
- Seiton berhasil kalau dibuat “mudah patuh”: dekat titik pakai, visual jelas, dan PIC area ada.
Apa Itu Seiton di laboratorium?
Seiton adalah langkah kedua dari 5S yang berarti menata—menempatkan barang yang sudah dipilih (hasil Seiri) ke lokasi yang paling logis agar mudah ditemukan dan cepat digunakan.
Dalam konteks lab, Seiton membantu kamu menghindari sistem “pakai ingatan”. Barang tidak boleh mengandalkan orang yang paling hafal. Yang benar: semua orang bisa menemukan reagen, sampel, alat, dan dokumen dengan aturan yang sama.
Seiton di laboratorium biasanya menyentuh tiga area paling sensitif:
- Reagen & bahan kimia (risiko salah simpan dan salah ambil tinggi)
- Sampel (risiko tertukar atau salah status)
- Alat & consumables (sering hilang, pindah tempat, atau habis tanpa terpantau)
Manfaat / Fungsi / Alasan
- Mempercepat alur kerja – tidak ada lagi waktu habis untuk mencari dan memastikan.
- Mengurangi kesalahan ambil barang – label, zona, dan penempatan membuat barang tidak mudah tertukar.
- Meningkatkan ketertiban dan keselamatan kerja – jalur dan area kerja lebih jelas, risiko penumpukan turun.
- Membuat kontrol stok lebih mudah – consumables dan bahan jadi lebih terpantau (min-max lebih gampang diterapkan).
Seiton yang baik itu terasa seperti “lab punya GPS”. Kamu tidak perlu bertanya ke siapa pun untuk mencari sesuatu, karena sistemnya sudah berbicara.
Pengalaman / Studi Kasus / Sudut Pandang Pribadi
Saya sering melihat lab yang sudah “punya rak”, tapi masih lambat karena raknya tidak didesain berdasarkan alur kerja. Misalnya: tip pipet sering dipakai tapi disimpan jauh, label tidak konsisten, atau barang yang berbeda fungsi dicampur dalam satu box.
Saya mencoba menerapkan Seiton secara disiplin, dan menemukan beberapa insight:
- Penataan yang paling efektif selalu dimulai dari pertanyaan: “barang ini dipakai di mana dan seberapa sering?”
- Sehebat apa pun label, kalau lokasi simpan jauh dari titik pakai, orang akan kembali menaruh di tempat terdekat (dan jadi berantakan).
- Sejak ada aturan pengembalian dan PIC area, barang “hilang” jauh berkurang.
Karena itu, saya percaya Seiton di laboratorium harus dibuat praktis dan dekat dengan kebiasaan kerja nyata, bukan sekadar terlihat bagus.
Cara Menerapkan Seiton di Laboratorium
Langkah 1: Tentukan prinsip “alamat barang”
Setiap barang harus punya:
- Lokasi tetap (rak/box/lemari/laci/area tertentu)
- Label yang konsisten (format sama, mudah dibaca)
- Aturan pengembalian (setelah dipakai kembali ke alamatnya)
Tanpa tiga hal ini, penataan hanya bertahan sebentar.
Langkah 2: Kelompokkan berdasarkan fungsi dan risiko
Di lab, pengelompokan paling mudah dipahami biasanya:
- Berdasarkan proses (contoh: preparasi, analisis, sampling, penyimpanan)
- Berdasarkan jenis (reagen, glassware, consumables, alat bantu)
- Berdasarkan risiko (bahan kimia berbahaya, bahan mudah terbakar, korosif, oksidator—sesuai kebijakan K3 internal)
Langkah 3: Terapkan “point-of-use storage” untuk item harian
Barang yang dipakai harian harus dekat titik pakai:
- tip pipet, label kosong, spidol, tisu lab, alkohol swab
- alat kecil pendukung (timer, pinset, marker, tape)
- wadah limbah sementara (sesuai prosedur)
Prinsipnya: kalau item itu dipakai 20 kali sehari, jangan disimpan “seperti museum”.
Langkah 4: Buat sistem visual sederhana
Seiton paling cepat jalan kalau visualnya jelas:
- label rak/box/laci dengan format sama
- garis batas area (bila perlu)
- kategori warna secukupnya (jangan berlebihan)
- penanda status (misalnya untuk area sampel: “incoming – in test – hold – completed”)
Langkah 5: Buat aturan “1 menit” dan uji coba
Aturan praktis: barang penting harus ditemukan ≤ 1 menit.
Tes langsung: minta orang lain mencari 3 item (tanpa bertanya). Kalau gagal, sistemnya perlu disederhanakan.
Contoh Penerapan Seiton di Lab
1) Seiton untuk reagen dan bahan kimia
Tujuan utama: mencegah salah ambil, salah simpan, dan memudahkan kontrol stok.
Praktik yang efektif:
- Pisahkan penyimpanan berdasarkan kategori dan risiko (ikuti aturan internal K3).
- Buat “zona kerja reagen harian” terpisah dari “stok cadangan”.
- Terapkan label rak yang konsisten (misalnya: kode area + nomor rak + kategori).
- Sediakan area “reagen sedang dipakai” supaya tidak kembali tercampur dengan stok.
Kebiasaan kecil yang berdampak:
- Jangan campur botol kosong dengan reagen aktif. Botol kosong harus punya area sendiri.
- Jika ada bahan dengan tanggal kedaluwarsa, gunakan sistem yang memudahkan rotasi (mis. yang lebih dulu dipakai ditempatkan di depan) sesuai prosedur internal.
2) Seiton untuk sampel
Di sampel, penataan bukan soal rapi—tapi soal status dan traceability.
Praktik yang efektif:
- Bagi area sampel menjadi zona status:
Incoming / Diterima – Dalam Pengujian – Hold – Selesai – Retensi - Gunakan box/rak berbeda per status agar tidak tercampur.
- Buat aturan jelas: sampel tidak boleh berpindah status tanpa catatan (sesuai sistem lab Anda).
Tips praktis:
- Kalau ruang terbatas, pakai kode warna atau label besar per zona status.
- Terapkan “satu arah alur” (flow) agar sampel tidak bolak-balik.
3) Seiton untuk alat dan consumables
Tujuan: mengurangi kehilangan, mengurangi waktu mencari, dan mencegah habis mendadak.
Praktik yang efektif:
- Buat “station” alat kecil: label, spidol, cutter, tape, pinset—semua satu tempat.
- Untuk consumables, gunakan konsep sederhana min–max: ada batas minimum visual (mis. garis batas box).
- Buat area khusus untuk alat “clean”, “in use”, dan “to be cleaned” (jika relevan).
- Letakkan item harian dekat meja kerja—item jarang dipakai pindah ke storage.
Risiko / Hal yang Perlu Diwaspadai
- Risiko: Label banyak tapi tetap sulit dicari
Solusi: balik ke prinsip dasar: alamat barang harus logis dan dekat titik pakai. Label tidak menyelamatkan sistem yang salah desain. - Risiko: Penataan cantik tapi tidak dipakai tim
Solusi: libatkan pengguna area saat menentukan lokasi. Penataan yang memaksa kebiasaan baru tanpa alasan kuat biasanya tidak bertahan. - Risiko: Reagen dan sampel tetap tercampur statusnya
Solusi: buat zona status yang jelas dan aturan perpindahan status (minimal SOP singkat + PIC). - Risiko: Alat cepat berantakan karena tidak ada aturan pengembalian
Solusi: tetapkan “aturan kembali ke alamatnya” dan PIC area. Audit ringan mingguan membantu.
Catatan keselamatan: untuk penyimpanan bahan kimia, ikuti prosedur K3 internal. Artikel ini fokus pada penataan 5S, bukan menggantikan kebijakan keselamatan.
Tips Mengoptimalkan Seiton di Laboratorium Dengan Benar
- Terapkan prinsip alamat barang + label konsisten + aturan pengembalian.
- Desain berdasarkan frekuensi pakai: harian dekat, jarang pindah ke storage.
- Buat zona status sampel agar tidak tercampur.
- Pisahkan reagen harian dan stok cadangan.
- Gunakan visual secukupnya: jelas, tidak ramai.
- Uji “1 menit”: orang lain harus bisa menemukan item penting tanpa bertanya.
- Pastikan ada PIC area agar sistem tidak jadi “punya semua, tapi dijaga tidak ada”.
Baca Juga : “5S di Laboratorium: Cara Terapkan Seiri sampai Shitsuke”
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)
Apakah Seiton aman digunakan?
Aman. Seiton membantu menata barang agar lebih mudah dicari dan dikendalikan. Tetap pastikan penyimpanan bahan kimia, sampel, dan limbah mengikuti prosedur K3 serta aturan internal lab.
Apa bedanya Seiton dengan Seiri?
Seiri fokus memilah (menentukan apa yang perlu dan tidak). Seiton fokus menata (memberi alamat dan sistem penempatan untuk barang yang sudah dipilih). Seiri dulu, baru Seiton.
Berapa lama efek Seiton terasa?
Biasanya cepat—dalam beberapa hari sampai minggu—karena waktu mencari turun dan alur kerja lebih lancar. Efek jangka panjang bergantung pada Seiketsu (standar) dan Shitsuke (disiplin audit).
Siapa yang cocok menerapkan Seiton di laboratorium?
Analis, teknisi, PIC area, supervisor lab, QA/QC, dan admin yang mengelola arsip/dokumen. Paling efektif jika melibatkan pengguna utama area sejak awal.
Kesimpulan (Summary Box)
“Seiton di laboratorium adalah pilihan terbaik untuk membuat reagen, sampel, dan alat mudah ditemukan sehingga kerja lebih cepat dan minim kesalahan.
Dengan manfaat seperti mengurangi waktu mencari, menekan risiko salah ambil, dan memperkuat kontrol area,
Jika ingin hasil maksimal, pastikan setiap barang punya alamat tetap, label konsisten, dan aturan pengembalian yang jelas.”
CTA
Kalau kamu ingin penataan reagen, sampel, dan alat di laboratorium benar-benar cepat dicari dan tidak balik berantakan, Seiton harus dibuat berbasis alur kerja nyata—bukan sekadar rapi di foto. Untuk praktik yang lebih terstruktur (zonasi, visual management, standar sederhana, hingga audit 5S), kamu bisa cek Pelatihan 5S di Laboratorium (2 Hari) di TrainingLaboratorium.


Pingback: 5S di Laboratorium: Cara Terapkan Seiri sampai Shitsuke - traininglaboratorium.com